Salahudin Rafi, Kecintaannya pada Mengajar

Salahudin Rafi, Kecintaannya pada Mengajar

Pembangunan Terminal 3 merupakan bagian dari grand design pengembangan Bandara Soekarno-Hatta. Bangunan ini bukan hanya kelihatannya panjang, tapi sesungguhnya memang panjang. Dari ujung bangunan sebelah kiri sampai sebelah kanan, panjangnya mencapai 1,4 km. Bisa jadi ini adalah bangunan terpanjang di Indonesia.

Terminal ini juga dilengkapi dengan gedung parkir di dua sisi (timur dan barat) yang masing-masing terdiri atas lima lantai. Sedangkan terminal VIP dibangun terpisah di sisi sebelah timur bangunan utama dan memiliki akses langsung menuju apron.

Membangun bangunan sebesar ini di tengah kesibukan operasional bandara memang tidaklah mudah dan memiliki tantangan tersendiri. Dari perbincangan dengan Fahroji, Maintenance Executive Manager AP II, diperoleh informasi bahwa pembangunan Terminal 3 tidak terlepas dari tangan dingin Salahudin Rafi, mantan Direktur Pengembangan Kebandarudaraan dan Teknologi Angkasa Pura II yang saat ini memiliki kesibukan sebagai pengajar atau dosen.    .

“Kami tidak mungkin menghentikan sebagian operasional bandara saat pembangunan, apalagi kondisi kapasitas bandara sudah kelebihan beban. Kalau dihentikan sebagian tentu akan mengguncang semua operasional bandara bahkan penerbangan di Indonesia,” ujar Salahudin Rafi saat dikonfirmasi majalah Alumni.

Agar tidak mengganggu proses penerbangan dan kenyamanan pengguna bandara, lanjut Rafi, proses pengerukan lahan dilakukan setelah pukul 21:00 WIB. Sedangkan proses pembangunan dilakukan dengan pola design and built, artinya pembangunan langsung dilakukan setelah konsepnya selesai. Jadi tidak ada tahap perencanaan. Konsep ini biasanya digunakan untuk pembangunan gedung yang spesifik.

Menurut Rafi, terminal bandara termasuk bangunan yang spesifik sehingga diizinkan untuk menggunakan pola tersebut. Dengan pola design and built, waktu pembangunan bisa dipangkas dari 4-5 tahun menjadi hanya 2-3 tahun. Sebagai pelaksana dilakukan oleh enam perusahaan yang bergabung dalam KSO bernama Kawahapejaya. Enam perusahaan tersebut adalah PT Wijaya Karya Tbk, PT Waskita Karya Tbk, PT Hyundai Engineering Co LTD, PT Pembangunan Perumahan Tbk, PT Jaya Teknik Indonesia, dan PT Indulexco and Woodhead Associate. Untuk mendukung proses pengerjaan, KSO mempekerjakan sekitar 3.000- 4.000 orang pekerja setiap hari.

Walaupun bangunannya besar, penumpang tidak akan dibuat bingung. Sirkulasi penumpang dibuat sederhana dengan memperbanyak ruang terbuka. Penumpang yang baru datang akan langsung menuju lantai 2 yang merupakan ruangan pelaporan diri (check-in hall). Untuk menuju lantai ini, disediakan jalan layang dari jalan utama di kompleks bandara. Setelah check-in, penumpang diarahkan menuju ruang tunggu ke arah timur (kanan) untuk penerbangan domestik atau ke arah barat (kiri) untuk penerbangan internasional. Akses menuju ruang tunggu tersebut merupakan area komersial yang dipenuhi toko, kafe dan restoran.

Rafi mengaku, sewaktu masih kecil tidak pernah bercita-cita menjadi dosen atau pengajar. Dia hanya ingin memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat dan mau berbuat baik untuk orang banyak.

Kebetulan, dia beruntung bisa mendapatkan kesempatan menjadi pengajar di kampus. Sedangkan di kantornya, yakni AP II, dia juga memberikan training kepada para porter yang ada di Bandara Soekarno-Hatta tentang Service Excellent, Airport Excellent, dan Training Service.

Awal ketertarikan ayah dari tiga anak ini mengajar, karena dirinya sering diminta untuk menjadi pembicara di seminar dan terkadang di kampus-kampus. Akhirnya, Rafi ditawari mengajar mata kuiah Airport Management, Business Management, Leadership atau Management Project.

Saking cintanya pada mengajar, dia sampai mengatakan bahwa pekerjaan sebenarnya adalah dosen, sedangkan pekerjaannya sebagai Direktur hanyalah hobi.

“Kalau ditanya, pekerjaannya apa Pak Rafi? Dosen. Hobi, jadi Direktur,” kelakarnya.

Sebagai dosen, dia tak ingin menjadi dosen yang kaku dan pelit memberikan nilai kepada mahasiswanya. Rafi ingin mahasiswanya paham pelajaran yang diajarkannya. Harapannya, ketika bekerja nanti, ilmu yang telah diberikan bisa berguna bagi anak didik.

“Harapan saya, anak bangsa kita pintar-pintar, siap pakai, dan tidak kalah dengan bangsa lain,” pungkas Salahudin Rafi yang sekarang menjadi Ketua Formatur Ikatan Alumni Curug (IAC) ini. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *