Capt Daniel Rumani, Dorong Dunia Penerbangan Menjadi Lebih Baik

Capt Daniel Rumani, Dorong Dunia Penerbangan Menjadi Lebih Baik

Para penerbang lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI)/ Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP)/Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara (LPPU)/Akademi Penerbangan Indonesia (API), yang tergabung dalam Ikatan Penerbang Alumni Curug (IPAC) secara resmi telah melebur dan bergabung dengan Ikatan Alumni Curug (IAC) yang telah dideklarasikan pada Minggu (30/4/2017) di Kampus Penerbangan Curug, Tangerang, Banten.

Hal ini disampaikan oleh Capt Daniel Dewantoro Rumani lulusan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug jurusan penerbang angkatan 45 tahun 1989, saat diwawancarai oleh majalah Alumni Curug disela-sela acara deklarasi Ikatan Alumni Curug (IAC).

“Pilot adalah profesi yang prestisius. Seorang pilot memiliki penghasilan yang tinggi. Dalam sebulan ia bisa membawa pulang sekitar Rp 90 juta. Apalagi bagi pilot profesional yang terbang dan bekerja di maskapai asing, penghasilan mereka bisa lebih tinggi lagi mencapai ratusan juta rupiah per bulan. Tapi untuk menjadi pilot syaratnya berat. Otaknya harus encer dan kondisi kesehatan harus tetap prima,” kata Capt Daniel.

Ia terinspirasi untuk menjadi seorang pilot sejak kecil. Ia terpacu semangatnya untuk menjadi pilot karena tak ingin terpaku dengan proses belajar mengajar di kelas yang monoton dan membosankan. Ia berkeinginan untuk belajar dan bisa langsung bekerja.

“Pucuk dicinta ulam tiba. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya ia bisa lolos masuk ke STPI. Namun tes untuk masuk taruna penerbang tidak ringan. Pertama, tes kesehatan dan syarat-syarat fisik harus dipenuhi. Selanjutnya, Tes Potensi Akademik (TPA) meliputi pengetahuan umum, IPA, fisika, matematika dan lainnya,” jelas Capt Daniel.

Ia melanjutkan, setelah lolos TPA pun bukan berarti perjuangan telah selesai. Calon taruna harus lolos bakat menjadi penerbang. Selain itu juga test psikologi yang banyak dan cukup melelahkan.

“Setelah lolos dan masuk STPI, harus diawali dengan masa dasar pembentukan sikap mental (Mada bintal) sebagai calon penerbang..Setelah itu, baru proses kuliah di dalam kelas sampai 18 bulan. Selanjutnya, 6 bulan masuk simulator, sebelum terbang dengan pesawat saat latihan sebagai siswa penterbang. Masuk simulator pun harus antre dan setiap taruna butuh waktu sekitar 3 jam per orang,” lanjut Capt Daniel.

Jika sudah lolos simulator, lanjutnya, kemudian latihan terbang dengan pesawat latih bersama instruktur. Jika sudah lulus, baru terbang sendiri atau terbang solo. Jika sudah bisa terbang solo, baru layak menjadi pilot. Itupun dengan predikat Comercial Pilot Lisence (CPL). Dari CPL lalu diterima bekerja di maskapai dan harus mengambil rating untuk bisa membawa jenis pesawat tertentu seperti Boeing 737, Boeing 777, Airbus A319, Airbus A320 dan sebagainya.

“Menjadi pilot pun ada jenjangnya, mulai dari co pilot. Lalu terbang di kiri dan kanan. Semua ada proses dan ujiannya. Jika sudah mampu dan mempunyai jam terbang cukup, baru bisa menjadi captain pilot. Untuk Captain pilot, umumnya harus mempunyai 2.500 jam terbang atau sesuai dengan kebijakan maskapai yang bersangkutan. Tapi, jika maskapai membutuhkan atau ada pilot yang pensiun bisa langsung naik menjadi captain pilot. Sebaliknya, jika maskapai belum membutuhkan, meski jam terbang sudah cukup belum tentu bisa naik menjadi seorang captain pilot,” paparnya.

Yang pasti, tambah Capt Daniel, untuk menjadi seorang captain pilot, bukan hanya jam terbang, tapi juga prestasi, dedikasi serta pengabdian yang cukup. Dan satu hal yang tak bisa ditawar-tawar, harus tetap fit dan lolos medical check upyang dilakukan secara rutin setiap enam bulan. Jika tidak lolos, jangankan menjadi captain, bisa jadi malah dilarang terbang lagi.

Ketika dimintai komentarnya terkait deklarasi Ikatan Alumni Curug (IAC), ia menyatakan sangat bersyukur sekali. Dengan adanya deklarasi ini, diharapkan nantinya bisa mengakomodir seluruh kepentingan para alumni maupun taruna yang akan mencari informasi. dan mampu menfasilitasi semua jurusan baik Penerbang, Teknik Penerbangan, Keselamatan Penerbangan maupun Manajemen Penerbangan.

“Selama ini yang ada kan hanya per angkatan dan per jurusan. Dengan adanya IAC ini, tentunya bisa menjadi wadah bagi para alumni semua angkatan dan semua jurusan. Saya kira tidak ada kata terlambat dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Kita angkatan 89 Curug yang menginisiasi, memulai dan langsung bergerak membentuk IAC ini,” tandas Capt Daniel.

Menurutnya, salah satu PR untuk IAC ke depan adalah mendorong pemerintah agar program bea siswa jangan dihilangkan dan STPI tetap merekrut pelajar berbakat yang berasal dari golongan kurang mampu.

Ketika disinggung soal adanya para junior yang belum mendapatkan lapangan pekerjaan khususnya penerbang yang disebutkan mencapai 900 orang, Capt Daniel menyatakan bahwa, ini merupakan PR lainnya bagi IAC untuk bisa membantu adik-adik agar bisa tertampung bekerja di maskapai.

“Saya melihat dunia penerbangan ini semakin maju dan berkembang sangat cepat. Dan kita melihat beberapa pemodal saling berlomba mendirikan sekolah penerbangan tanpa memiliki prioritas mutu, kualitas dan juga kuantitas. Untuk itulah kita bersama IAC berkontribusi untuk mempertahankan mutu STPI Curug dan kedepan bisa menjadi lebih baik lagi,” katanya.

Capt Daniel secara pribadi berpesan kepada teman-teman di IAC, untuk selalu ingat almamaternya. Terutama ingat kepada teman dan adik-adik yang membutuhkan bimbingan, bisa tetap memegang teguh visi misi dan menghindari perpecahan.

“IAC harus bisa mendorong dunia penerbangan menjadi lebih baik dan bisa membantu STPI  mencetak kader penerbangan yang berkualitas, berwawasan luas, jujur dalam bekerja dan tetap memegang teguh tanggung jawab profesi,” pungkas Capt Daniel Rumani, pria kelahiran Minahasa, 5 Desember 1968 ini. (*)

Sumber: http://alumnicurug.com/alumni-curug-edisi-09/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *