CALL to MIND #1: ROADMAP PEMBANGUNAN SDM TRANSPORTASI UDARA HINGGA TAHUN 2038 serta TANTANGAN DUNIA PENERBANGAN MEMASUKI ERA REVOLUSI KEEMPAT

CALL to MIND #1: ROADMAP PEMBANGUNAN SDM TRANSPORTASI UDARA HINGGA TAHUN 2038 serta TANTANGAN DUNIA PENERBANGAN MEMASUKI ERA REVOLUSI KEEMPAT

IACNEWS  Rabu, 31 Oktober 2018

ERA REVOLUSI INDUSTRI KEEMPAT VS GENERASI Y dan GENERASI Z

Dunia kita memasuki Era Revolusi Industri Keempat. Sepenggal masa di mana dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu maupun kelompok mudah mendapatkan informasi dan dapat membandingkan berbagai produk yang dihasilkan. Dalam aspek bisnis, pengaruh yang dominan terjadi adalah pimpinan perusahaan mampu menemukan efisiensi dan cara baru di setiap value chain dari produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Era Revolusi Industri dikenal juga dengan sebutan Era Teknologi Finansial. Era ini sangat erat hubungannya dengan penggunaan peralatan digital terkait penyebaran informasi di setiap kelompok umur. Sebagaimana dirilis oleh EY Fintech Adoption Index tahun 2017 bahwa tiga dominan pengguna teknologi dan kanal digital berturut-turut adalah sebesar 48% berada pada kelompok umur 25-34 tahun, sebesar 41% berada pada kelompok umur 35-44 tahun dan sebesar 37% berada pada kelompok umur 18-24 tahun. Prosentase tersebut mengindikasikan bahwa teknologi dan perangkat digital sudah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari sehingga informasi apapun dapat lebih cepat dan mudah diakses oleh kelompok-kelompok umur 18-44 tahun. Dan Indonesia merupakan pasar potensial dalam mengembangkan teknologi finasial karena selain memiliki populasi penduduk sebesar kurang lebih 255 juta orang, 42% penduduknya berpredikat sebagai Generasi Y dan Generasi Z.

Generasi Y, sering disebut juga dengan generasi milenial, yang terlahir dengan rentang waktu tahun 1981-2000, oleh para pakar psikologi digolongkan memiliki sifat berprestasi, percaya diri, toleransi tinggi serta street smart sehingga hal ini berdampak pada etos kerja yang ambisius, multitasking, memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi serta gigih dalam melakukan aktivitas yang produktif namun menghargai sikap individu antarsesama.

Generasi Z, yang terlahir dengan rentang waktu tahun 2001-2010, adalah peralihan dari Generasi Y dengan pola pikir mereka yang cenderung serba ingin instan. Kehidupan mereka cenderung bergantung pada teknologi, mementingkan popularitas dari media sosial yang digunakan serta bangga dengan keragaman. Dalam hal roadmap pembangunan SDM transportasi udara, kedua generasi di atas menjadi tolok ukur dalam menumbuhkan serta mengembangkan performa dan sikap kritis terhadap era revolusi industri keempat yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan di bidang penerbangan.

Era Revolusi Industri Keempat Versus Generasi Y dan Generasi Z.

Tolok ukur yang dimaksud adalah:

  1. Apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam generasi tersebut guna mewujudkan teknologi finansial di bidang penerbangan serta apa yang dibutuhkan oleh para penyelenggara diklat dalam mendorong iklim akademik menjadi seimbang, baik dari segi skill, pengetahuan dan sikap?;
  2. Mengapa individu tersebut perlu memahami bahwa digitalisasi berdampak pada kepentingan industri bidang penerbangan serta mengapa penyelenggara diklat perlu mendesain program pendidikan dan pelatihan berbasis pada teknologi digital?;
  3. Kapan implementasi digital ini menjadi wajib dipertunjukkan kepada para individu?; serta
  4. Di mana dan bagaimana para stakeholder serta penyelenggara diklat mencari solusi terhadap penyelesaian kebijakan startegis di era teknologi finansial?

Tolok ukur Generasi Y dan Generasi Z dalam menumbuhkan serta mengembangkan performa dan sikap kritis terhadap era revolusi industri keempat yang dibutuhkan oleh para pemangku kepentingan di bidang penerbangan.

Beberapa poin menyangkut pendidikan tinggi terutama bidang pendidikan vokasi yang perlu sama-sama kita ketahui terkait dengan kondisi saat ini agar mampu menjawab  tantangan ke depan adalah sebagai berikut.

  1. Undang-Undang Nomor 1 tahun 2009 tentang Penerbangan, pasal 1 ayat 12 menyatakan,”Personil Penerbangan, yang selanjutnya disebut personil, adalah personil yang berlisensi atau bersertifikat yang diberi tugas dan tanggungjawab di bidang penerbangan”. Kemudian dalam pasal 222 menyatakan,”setiap personil bandar udara wajib memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi”. Dilanjutkan pasal 292 menyatakan,”Setiap personil navigasi penerbangan wajib memiliki lisensi atau sertifikat kompetensi”.
  2. Undang-Undang Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pasal 44 ayat (1) menyatakan,”Sertifikat kompetensi merupakan pengakuan kompetensi atas prestasi lulusan yang sesuai dengan keahlian dalam cabang ilmunya dan/atau memiliki prestasi di luar program studinya”.
  3. Perpres Nomor 8 tahun 2012 tentang Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia, pasal 7 ayat (1) menyatakan,”Penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pengalaman kerja dengan jenjang kualifikasi pada KKNI mempertimbangkan bidang dan lama pengalaman kerja, tingkat pendidikan serta pelatihan kerja yang telah diperoleh”. Selanjutnya pasal 7 ayat (3) menyatakan,” Penyetaraan capaian pembelajaran yang dihasilkan melalui pengalaman kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan sertifikasi kompetensi”.
  4. Permenristekdikti RI Nomor 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yang memuat tentang Standar Nasional Pendidikan, Standar Nasional Penelitian serta Standar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat.

Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor PM 56 Tahun 2015 tentang Pengusahaan di Bandar Udara, pasal 17 ayat (1) menyatakan,”Dalam melaksanakan pelayanan jasa kebandarudaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3, Badan Usaha Bandar Udara dan Unit Penyelenggara Bandar Udara wajib: a. menyediakan personil yang mempunyai kompetensi untuk perawatan dan pengoperasian fasilitas bandar udara; b. mempertahankan dan meningkatkan kompetensi personil yang merawat dan mengoperasikan fasilitas bandar udara”.

Ruang lingkup referensi pasal pada peraturan di atas adalah memuat tentang sertifikat kompetensi, lisensi  serta standarisasi penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan khususnya di bidang penerbangan. Terkait dengan era revolusi industri keempat, sama seperti mengurai benang kusut namun bukan berarti tidak dapat diselesaikan. Kompleksitas era harus diimbangi dengan pemutakhiran sistem organisasi guna memperoleh hasil dari implementasi aturan tersebut. Harus ada target penyelesaian yang prioritas sehingga benang masalahnya dapat diurai. Dan jalan prioritas yang perlu dilakukan saat ini adalah melalui Link and Match antara para pihak terkait agar diperoleh personil yang berasal dari Generasi Y dan Generasi Z yang profesional dan dibutuhkan di dunia penerbangan. Pihak terkait yang kami maksud adalah para pemangku kepentingan di dunia penerbangan yang dikelompokkan ke dalam: operator pesawat udara, operator bandar udara, operator navigasi penerbangan, regulator serta penyelenggara diklat (training provider).

Namun, ada beberapa hal yang perlu juga diperhatikan secara bijak oleh stakeholder serta penyelenggara diklat di bidang penerbangan, yaitu terdapat kecenderungan bahwa hal-hal yang bersifat digital atau computerized berdampak pada menurunnya sense of basic knowledge. Misal, ketika aplikasi perangkat lunak tumbuh bak jamur di musim hujan, mampu mempercepat proses perhitungan persamaan numerik dalam bidang teknologi, Generasi Y dan Generasi Z kurang memiliki cara berpikir konvensional dibandingkan dengan generasi yang ada sebelumnya. Sense of Engineering para Generasi Y dan Generasi Z menurun karena mereka dijejali dengan pemandangan serba virtual atau tidak nyata.

Hal demikian perlu kita carikan solusinya agar Generasi Y dan Generasi Z tidak kehilangan daya analisa serta masih dapat memutuskan sesuatu berdasarkan pertimbangan yang berjenjang. Kejadian sebagaimana disampaikan pada kalimat sebelumnya tidak terlepas dari organisasi yang menaungi para generasi tersebut beraktivitas. Jangan sampai, organisasi juga tidak memberi ruang para generasi untuk berkembang sesuai dengan era saat ini. Atau dengan kata lain, organisasi harus mengikuti perkembangan yang terjadi hingga saat ini tanpa harus melupakan kebiasaan yang baik sebelumnya sehingga para generasi tidak kehilangan sense of basic knowledge serta mampu memprediksi dan memikirkan langkah-langkah di masa akan datang.

Generasi Y dan Generasi Z dalam Link and Match Industri Penerbangan dengan Penyelenggara Diklat.

LINK and MATCH ANTARA INDUSTRI PENERBANGAN dengan PENYELENGGARA DIKLAT

Agak mengherankan memang, apabila industri penerbangan belum menerapkan sistem manajemen organisasi digital di tengah maraknya bermacam-macam globalisasi ke Indonesia. Dan lebih mengherankan lagi, apabila masih ada penyelenggara diklat yang nyata-nyata berhadapan  dengan para generasi yang hidup di era revolusi industri keempat, masih menerapkan pola yang sudah tidak sesuai dengan jamannya. Jika Link and Match adalah sebuah keniscayaan, maka pelaku industri penerbangan dan penyelenggara diklat wajib menyesuaikan sistem manajemen yang baik guna mewujudkan tujuan yang harmonis berdasarkan prinsip saling menguntungkan.

Aturan yang berlaku harus dapat kita sinergikan serta Link and Match antara industri penerbangan dan penyenggara diklat dapat diimplementasikan menurut masanya. Dalam hal kebutuhan personil penerbangan, pihak penyelenggara diklat wajib melakukan terobosan-terobosan baik dari sisi standar pendidikan. Dan yang terpenting adalah personil yang dihasilkan oleh penyelenggara diklat sejalan dengan kebutuhan di industri penerbangan. Terkait dengan aturan pendidikan tinggi, penyelenggara diklat wajib menjadi main driver. Apabila terdapat terobosan baru dalam dunia pendidikan, penyelenggara diklat harus dapat mensosialisasikan kepada seluruh stakeholder agar terobosan tersebut dapat digunakan.

Sosialisasi terobosan yang dimaksud masih dalam kerangka memenuhi standar nasional pendidikan, standar nasional penelitian serta standar nasional pengabdian kepada masyarakat. Individu tidak hanya dididik menjadi macan di dalam kampus tapi juga menjadi singa di industri penerbangan. Dan individu yang disampaikan dalam hal ini adalah seluruh sivitas akademika yang memiliki kompetensi di bidang masing-masing.  Lalu, terobosan apa yang perlu dilakukan penyelenggara diklat dalam mendorong iklim akademik?

Agar Link and Match ini terimplementasi dengan baik, perlu terobosan yang prioritas, kemudian dibagi menjadi beberapa jangka waktu dalam tahun.

Link and Match: Sinergitas Stakeholder dan Industri Penerbangan dengan Penyelenggara Diklat.

Share this post